Infra-Merah.com

Jembatan Informasi Masyarakat

Begini Prosesi Sambut Kedatangan Arinal dan Wagub Nunik Di Mahan Agung

Bandar Lampung (Inframerah) : Menjelang kedatangan Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi dan Wakil Gubernur Nunik di Mahan Agung, Bandar Lampung, Kamis (13/06/2019) akan segera dilaksanakan dengan tata cara adat dari Marga Teluk Betung.

Wakil Ketua Adat Marga Telukbetung, Nizirwansyah, SH menjelaskan penyambutan gubernur Arinal Djunaidi dan Wagub Nunik menggunakan tata cara atau titi adat Penyimbang Tuha Marga Telukbetung, di mana kesebathinan ini berada dibawah naungan Marga Telukbetung dan sekarang dipimpin oleh saudara Johan Purba Saputra bergelar Pangeran Jayaenegara.

” Jadi penyambutan ini, di kita sudah mantap 100 % dan ini akan segera di mulai ketika pak gubernur datang ataupun turun dari kendaraan kita sudah   tunggu beliau, selain disini (Mahan Agung,red) di sana pun ( Beranti, Raden Intan II) sudah ada penyambutan secara adat dari adat Marga Pekhu Jadi,” jelas Iwan sapaan akrabnya bergelar Karya Natanegara, di Mahan Agung, Kamis (13/06/2019).

Sesampai di sini nanti, sambung Nizir, mereka menyerahkan kepada Marga Adat Telukbetung dan penyerahan rombongan gubernur dan wakil gubernur, lalu diterima.

” Dan selanjutnya pak Gub, kita arahkan untuk berada di depan gerbang Mahan Agung, setiba di sana ada laporan secara kedinasan,  setelah laporan secara kedinasan kita ambil alih, baru masuk di prosesi adat, ” terang Karya Natanegara.

Kemudian, lanjut Iwan, Dari Bapak Gubernur, Arinal dan Ibu Wagub, Nunik, beserta pasangannya itu masuk di dalam alat budaya bernama ‘ Alam Gemesekh’. Alam Gemesekh ni atau diartikan Awan yang bergeser.

” Dimana Folosofinya, ketika beliau (Arinal-Nunik) memimpin Provinsi Lampung, Insa Allah akan senantiasa dilindungi serta diberkahi oleh Allah SWT. Sebagaimana awan yang melindungi baginda Rasullullah SWT,” ucapnya.

Untuk selanjutnya nanti, jelas Iwan, ada laporan dari Ketua Panitia arak-arakan kepada koordinator acara itu oleh Hadin Si khaja kepada Karya Natanegara, dan dilanjutkan dengan yel-yel angkat pusaka. Baru dibuka dengan tabuan hadroh lama.

” Jadi setelah tabunan hadroh lama, baru berjalan, setelah  perjalanan sampai di gerbang, yang memang sudah ditentukan, lalu di situ ada prosesi adat lagi, yang namanya buka halong,” katanya.

” Tentunya nanti ada petugas kita yang  bertugas untuk membacakan bebandung buka hango. Nah disana nanti setelah pelaksanaan pembacaan selesai, maka bapak gubernur akan berjalan melewati titian atau jembatan yang telah ada. Lalu melangkahi palem atau nampan kuningan, diatas jejalan putih,” ucapnya dia.

Nah ini pun, kata Iwan, memiliki makna agar ketika bapak gubernur Arinal dan Ibu Wagub, Nunik bilamana memimpin lampung akan berpegang teguh pada prinsip-prinsip keadilan.

” Dan tentunya sesuai dengan nilai-nilai agama islam untuk kemaslatan masyarakat lampung dan acara selesai,” ungkapnya.(r)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *