Infra-Merah.com

Jembatan Informasi Masyarakat

Potensi E-Commerce di Lampung

Pesatnya perkembangan internet turut mendorong perubahan pola kebiasaan masyarakat. Kini, untuk sekadar membeli nasi goreng saja, kita tidak perlu repot datang ke penjual, cukup order melalui aplikasi, tidak menunggu waktu lama makanan akan datang diantar ke rumah. Pola perubahan ini kemudian lebih populer dikenal dengan istilah disrupsi.
Disrupsi bidang ekonomi men-trigger bidang lainnya. Pemerintahan, pendidikan, kesehatan, sosial kini berbondong-bondong mengadopsi layanan berbasis elektronik. Manfaatnya, selain membuat jalur komunikasi lebih simpel, database user juga jauh lebih mudah di-maintenance.
Metode perdagangan di tengah masyarakat kini mulai banyak bertransformasi, dari face to face menjadi klick to klick. Masyarakat lebih banyak memanfaatkan aplikasi internet sebagai media bisnis mereka –masyarakat lebih familiar dengan istilah jual beli online–. Secara formal, fenomena jual beli ini dikenal dengan perdagangan elektronik atau e-commerce.
Perkembangan e-commerce di Indonesia dinilai sangat potensial. Tengok saja data jumlah startup Indonesia sekarang ini, menurut startupranking.com, Indonesia saat ini memiliki 2.079 startup dan termasuk lima terbesar di dunia didalamnya satu berkategori decacorn dan empat berkategori unicorn. Oleh sebab itu, perkembangan e-commerce telah menjadi perhatian pemerintah dengan dikeluarkannya Paket Kebijakan Ekonomi XIV mengenai e-commerce. Hal ini mendukung visi pemerintah untuk menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kapasitas ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2025 mendatang.
Pemerintah merasa perlu menerbitkan peraturan presiden tentang peta jalan e-commerce untuk mendorong perluasan dan peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat di seluruh Indonesia secara efisien dan terkoneksi secara global. Peta jalan e-commerce ini sekaligus dapat mendorong kreasi, inovasi, dan invensi kegiatan ekonomi baru di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, pada tahun 2017 diterbitkan Perpres No. 74 tahun 2017 mengenai Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik atau SPNBE. Dengan keluarnya perpres itu, maka pemerintah melihat bahwa perlu ketersediaan data e-commerce yang dapat memetakan perkembangan e-commerce di Indonesia.
Berdasarkan Survei E-Commerce Tahun 2019 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki 13.485 usaha e-commerce. Nilai pendapatan usaha dari penjualan internet sepanjang tahun 2019 mencapai 17,21 triliun rupiah dengan jumlah transkasi online sebanyak 24,82 juta transaksi.
Di Lampung, perkembangan usaha e-commerce tengah bertumbuh. Menurut data BPS tahun 2019, dari semua usaha yang ada di Provinsi Lampung, 18,48 persen sebagai usaha e-commerce. Persentase ini paling tinggi dibandingkan provinsi lain di Sumatera dan lebih tinggi dari angka nasional yang mencapai 15,08 persen. Dari jumlah yang tercatat tersebut, sebagian besar (40,83 persen) memulai penjualan secara online pada rentang tahun 2017–2018. Usaha e-commerce yang memulai penjualan online¬-nya pada tahun 2019, mencapai 35,90 persen.
Sebagian besar usaha e-commerce di Lampung berada pada kategori Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor (44,07 persen), Kesenian, Hiburan, dan Rekreasi dan Aktivitas Jasa Lainnya (15,58 persen) serta Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum (14,51 persen). Ada pun jenis barang yang banyak dijual secara online di Provinsi Lampung berupa makanan, minuman, bahan makanan (26,37 persen), jasa lainnya (22,12 persen), dan pakaian, alas kaki, jilbab, mukena, kopyah, aksesoris, ikat pinggang, dan kacamata (21,06 persen). Untuk metode pembayaran yang paling banyak disediakan pada proses penjualan online adalah pembayaran di tempat atau cash on delivery (COD) sebanyak 93,10 persen.
E-Commerce turut menyerap tenaga kerja di Lampung. Sebanyak 85,31 persen usaha e-commerce memiliki 1–4 orang karyawan. Angka ini tidak jauh dengan angka nasional yang mencapai 84,21 persen. Selama tahun 2018, usaha e-commerce di Lampung yang nilai transaksinya di bawah 300 juta mencapai 94,51 persen; 300 juta–2,5 miliar mencapai 3,89 persen; 2,5 miliar–50 miliar mencapai 0,71 persen; dan di atas 50 miliar mencapai 0,89 persen.
Sebanyak 81,52 persen usaha di Lampung masih belum menggunakan e-commerce. Berdasarkan hasil Survei E-commerce tersebut, sebanyak 69,99 persen dari jumlah tersebut beralasan lebih nyaman berjualan secara offline, 31,73 persen beralasan tidak tertarik berjualan online, dan 23,00 persen kurang pengetahuan atau keahlian.
Menurut perkiraan, e-commerce ke depan akan seperti bola salju, terus menggelinding dan kian membesar seiring perkembangan teknologi yang kian mudah. Para pengusaha yang masih mengandalkan metode konvensional lambat laun akan tertinggal. Kelebihan e-commerce adalah tidak perduli dengan ruang geografis. Seseorang dapat dengan mudah berjualan atau berbelanja di belahan bumi mana pun.
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari seperempat milyar jiwa, potensi e-commerce Indonesia seperti kita menunggu raksasa bangun dari tidur. Kita berharap, semoga e-commerce di Provinsi Lampung dapat optimal dan turut ambil bagian “kue” tersebut. Semoga saja.

Ditulis Oleh :
Gun Gun Nugraha, S.Si., M.S.E.
Staf Seksi Statistik Niaga dan Jasa
BPS Provinsi Lampung

 

BIODATA PENULIS

Nama : Gun Gun Nugraha, S.Si. M.S.E.

Tempat tanggal lahir : Pandeglang, 12 Maret 1981

Pekerjaan : ASN Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung

Jabatan : Staf Seksi Statistik Niaga dan Jasa

Alamat rumah : Jl. Cut Mutia Gg. Maninjau No. 21 RT. 015 Lingkungan II,
Kel. Gulak Galik, Kec. Teluk Betung Utara, Bandarlampung

Alamat kantor : Jl. Basuki Rahmat No. 54 Teluk Betung – Bandar Lampung, 35215
Telp. (0721) 482909-474363, Fax. (0721) 484329
Email: bps1800@bps.go.id, Web:http://lampung.bps.go.id

Email : gun.nugraha@gmail.com

No. HP : 0813 8748 0123 atau 0819 9090 3199

Pendidikan : – Sarjana Matematika, Fakultas MIPA, Unila – Lampung
– Magister Sains Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UI – Depok

Beberapa judul opini yang pernah terbit tahun 2020 :
1. Mengapa Kita Harus Disensus? Lampung Post, 15 Februari 2020
2. Si Bawang Putih yang Kini Tak Ramah Lagi, Radar Lampung, 23 Februari 2020
3. Selamat Hari Bahasa Ibu, Radar Lampung, 1 Maret 2020
4. Modal Sosial di Tengah Corona, Lampung Post, 10 Maret 2020
5. Pergeseran Pola Konsumsi Masyarakat Wilayah Perkotaan di Provinsi Lampung, infra-merah.com, 10 Maret 2020, link https://infra-merah.com/2020/03/10/pergeseran-pola-konsumsi-masyarakat-wilayah-perkotaan-di-provinsi-lampung/
6. Pandemi Covid-19 dan Pariwisata Indonesia, Radar Lampung, 15 Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *