Infra-Merah.com

Jembatan Informasi Masyarakat

Hari Pengendalian Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia 2021

Tanggal 17 Juni telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia. Awalnya peringatan hari ini ditetapkan oleh Majelis Umum PBB melalui resolusi majelis Umum A/RES/49/115 di tahun 1994. Tujuan dari peringatan hari ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah degradasi lahan.

Degradasi lahan sendiri diartikan sebagai sebuah kondisi dimana lahan mengalami kerusakan sehingga tidak bisa berproduksi secara optimal. Terdapat dua faktor utama penyebabnya. Penyebab pertama adalah faktor manusia yang bercocok tanam tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah, penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang tidak ramah lingkungan serta sistem budidaya monokultur.

Penyebab kedua adalah faktor alam, biasanya terjadi di wilayah tropis basah seperti Indonesia. Faktor topografi berupa topografi berombak, bergelombang, berbukit dan lereng curam menjadi salah satu penyebabnya. Selain topografi faktor iklim dengan curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi juga mempengaruhi.

Jika melihat dua faktor utama penyebab degradasi lahan tersebut. Selayaknya kita masih bisa berusaha optimal untuk mencegah degradasi lahan menjadi lebih buruk lagi. Kita bisa mengupayakan agar lahan yang sebelumnya terdegradasi bisa menjadi baik kembali.Serta mencegah degradasi lahan yang masih dalam kondisi baik.

Tema hari penanggulangan degradasi lahan dan kekeringan sedunia tahun ini adalah “Restorasi lahan dapat berkontribusi besar terhadap pemulihan ekonomi pasca Covid19. Berinvestasi dalam restorasi lahan menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan manfaat ekonomi, dan dapat memberikan mata pencaharian pada saat ratusan juta pekerjaan hilang”. 

Tema yang diusung sangat sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) selama masa pandemi Covid19 perekonomian Indonesia mengalami kontraksi. Tahun   2020 mengalami kontraksi sebesar 2,07 persen. Triwulan pertama tahun 2021 pun masih mengalami hal yang sama yaitu kontraksi sebesar 0,74 persen. Hal menariknya adalah sektor pertanian adalah sektor yang bisa terus tumbuh semasa pandemi ini.

Perhatian terhadap masalah lahan bukan saja berdampak pada pemulihan ekonomi tapi juga berdampak pada banyak hal. Bagian yang paling penting adalah terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan, karena pada hakikatnya sumber daya alam bukan hanya milik kita tapi juga akan diwariskan pada generasi mendatang. Mempertahankan dan memulihkan lahan dapat mengatasi perubahan iklim, menjaga keanekaragaman hayati dan menjaga ekosistem. Lahan yang sehat akan bermanfaat untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama. 

Bagaimana kondisi lahan di Indonesia? Sebagai upaya menggambarkan kondisi pertanian secara utuh BPS melakukan Survei Pertanian Terintegrasi (Sitasi). Tahun 2020 lalu uji coba survei dilakukan di tiga provinsi di Indonesia yaitu di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. 

Berdasarkan hasil uji coba tersebut didapatkan data sebesar 89,72% penggunaan lahan pertanian di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat dikategorikan sebagai dibawah standar pengelolaan produktif yang menjamin pertanian berkelanjutan. Sedangkan, hanya sekitar 10,28% lahan pertanian di ketiga provinsi tersebut yang telah memenuhi standar pengelolaan produktif sebagai lahan pertanian yang berkelanjutan.

Jika melihat data tersebut maka selayaknya masalah degradasi lahan menjadi perhatian serius untuk kita semua. Pemerintah perlu turun tangan untuk mengatasinya. Sebagai langkah awal pada tahun ini akan dilakukan Sitasi di seluruh Indonesia. Hasil survei diharapkan dapat digunakan sebagai acuan pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran khususnya untuk sektor pertanian.

Hasil survei tidak hanya memotret bagaimana produktivitas, kondisi lahan dan kondisi pertanian pada umumnya. Survei ini juga dapat menggambarkan bagaimana kondisi sosial ekonomi petani di Indonesia. Ketersedian data yang tepat tentu akan menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Kebijakan pemerintah nantinya diharapkan dapat mengatasi masalah kurang sejahteranya petani. Mendorong generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Menjadikan profesi sebagai petani bukan lagi keterpaksaan karena tidak ada pilihan lain. Tentu saja dampaknya akan terasa pada peningkatan produktivitas sebagai hasil dari berbagai inovasi.

Sebelum terlambat, saat ini pemerintah bisa lebih gencar memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang pentingnya menjaga kondisi lahan dan sistem pertanian berkelanjutan. Disisi lain masyarakat dapat berkontribusi dengan menjaga lahan dari kerusakan. Semoga sinergi antara pemerintah dan kesadaran masyarakat dapat mengatasi masalah degradasi lahan.

Penulis : Hardianty, S.Si.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *